Rabu, 14 Maret 2012

WAWASAN KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor Yang sangat berperan dalam organisasi, baik buruknya organisasi seringkali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin. Berbagai riset juga telah membuktikan bahwa faktor pemimpin memegang peranan penting dalam pengembangan organisasi.

 
Penelitian tentang kepemimpinan dimulai sejak abad ke-19 sekitar kurang lebih 60 tahun yang lalu. Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.
Pemimpin sejati seringkali tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah:
1.     Bagaimanakah pemimpin dan kepemimpinan itu?
2.     Bagaimanakah pendekatan studi kepemimpinan?
  1. Bagaimana tipe dan ciri kepemimpinan?
  2. Bagaimanakah Peranan pemimpin dan kepemimpinan?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun Tujuan Penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.     Pengertian atau batasan kepemimpinan.
2.     Pendeketan studi kepemimpinan
3.     Tipe dan ciri kepemimpinan
  1. Peranan seorang pemimpin.


BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian pemimpin dan kepemimpinan
Sejak dahulu kala, manusia - jika berkumpul bersama untuk mencapai tujuan - telah merasakan kebutuhan akan seorang pemimpin. Efektivitas dari suatu lembaga atau organisasi setelah dicermati tergantung pada kualitas seorang pemimpin yang muncul di dalam lembaga tersebut, baik yang sifatnya formal maupun informal.[1]
Dubin (1968) dalam Cyril Poster memandang kepemimpinan sebagai penggunaan kekuasaan dan pembuatan keputusan, sedangkan pemimpin adalah seseorang dalam suatu kelompok tertentu yang tugasnya mengatur dan mengkordinasi kegiatan kelompok tugas yang relevan. Lipham (1964) membatasi kepemimpinan sebagai pengambilan inisiatif untuk suatu susunan  atau prosedur baru dalam mencapai sasaran atau tujuan organisasi. Sehingga Pondy (1978) menyatakan bahwa efektivitas seorang pemimpin terletak dalam kemampuannya menjadikan kegiatan bermakna, bukannya mengubah sikap, tetapi untuk memberikan kepada orang lain gairah memahami apa yang sedang mereka lakukan.[2]
Bagi Greendfield (1986) dalam Cyril Poster menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan penuh semangat dimana seseorang berupaya membangun dunia organisasi bagi orang lain, dan ia menyarankan bahwa pemimpin akan berusaha melibatkan orang lain kepada nilai-nilai yang mereka yakini.[3] Berdasarkan pengertian tersebut dapat dibedakan antara pemimpin dan kepemimpinan, dimana pemimpin menunjuk pada subyek/pelaku sedangkan kepemimpinan menunjukkan pada sifat seseorang.
Lebih jauh Azhar Arsyad, dkk, membagi pengertian kepemimpinan dalam arti sempit dan kepemimpinan secara luas dalam posisi manajerial. Kepemimpinan secara sempit adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain. Sedangkan kepemimpinan secara luas dalam posisi manajerial adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya dalam pencapaian tujuan.[4]
Dari Pengertian diatas dapat ditarik 4 implikasi sebagai unsur kepemimpinan,[5] yaitu:
1.    Kepemimpinan menyangkut orang lain-bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin, para anggota kelompok membantu menentukan status/ kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan.

2.    Kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan

3.    Selain dapat memberikan pengarahan kepada para bawahan atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh.

4.    Pentingnya seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang memungkinkan untuk menciptakan suasana dan situasi organisasi yang kondusif sehingga para bawahan dapat melakukan tugasnya dengan rasa nyaman.

Dari berbagai defenisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah proses dalam mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan di dalam suatu situasi tertentu. Sehingga pemimpin harus mampu memberikan pengaruh kepada orang lain.

B.   Pendekatan-pendekatan Studi Kepemimpinan
Berbagai studi kepemimpinan telah dilakukan sehingga memunculkan berbagai defenisi tentang kepemimpinan baik kepemimpinan dipandang sebagai suatu ilmu, kemampuan perilaku seseorang, maupun kepemimpinan dilihat sebagai suatu proses.
Perbedaan defenisi tersebut karena dibangun oleh teori yang berbeda, salah satu diantaranya dapat dilihat pada beberapa teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh Muhaimin dkk. Bahwa kepemimpinan dapat ditinjau dari aspek sifat, kepemimpinan situasional dan kepemimpinan transformasional. [6]
Kepemimpinan sifat disarikan dari Covey (2005) dalam Muhaimin, dkk. bahwa orang-orang yang percaya pada sifat menyatakan bahwa para pemimpin dianugrahi sifat-sifat yang lebih unggul, sehingga menyebabkan pemimpin tersebut berbeda dengan orang lainnya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan yang dikemukakan oleh Hersey & Blachard bahwa kepemimpinan adalah hasil dari tuntutan-tuntutan situasional. Faktor-faktor situasional lebih menentukan siapa yang akan muncul sebagai seorang pemimpin daripada warisan genetik atau sifat yang dimiliki seseorang.[7]
Adapun teori kepemimpinan transformasional dikemukakan oleh Mintzberg bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk melangkah keluar dari budaya yang ada dan memulai proses perubahan evolusioner yang lebih adaptif.[8]  Para pengembang teori transformasional melihat bahwa pemimpin memiliki tugas menyelaraskan, menciptakan, dan memberdayakan. Para pemimpin melakukan transformasi terhadap organisasi dengan menyelaraskan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain, menciptakan sebuah budaya organisasional yang menyuburkan ekspresi gagasan-gagasan secara bebas, dan memberdayakan orang-orang untuk memberikan kontribusi terhadap organisasi.
Dalam buku Kepemimpinan dan Motivasi, Wahjosumidjo, membagi pengertian kepemimpinan  dalam tiga pendekatan,[9]  yaitu:
1.    Studi kepemimpinan yang mengidentifikasi berbagai sifat para pemimpin yakni dalam usaha menjawab pertanyaan How one becomes a leader (bagaimana menjadi seorang pemimpin), pendekatan sifat dalam teori kepemimpinan didasarkan pada pemikran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, parangai atau ciri-ciri yang dimiliki oleh pemimpin itu, baik sifat fisik maupun psikologis. Pendekatan sifat ini dianut oleh beberapa ahli antara lain Chester I. Barnard, Ordway Tead, John D. Millet, Ralph Stodgill, Keith Davis, GR. Terry, Ruslan Abdulgani dan sebagainya.

2.    Kepemimpinan yang menekankan kepada berbagai perilaku pemimpin, yaitu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan How leaders behave (bagaimana perilaku seorang pemimpin), Teori kepemimpinan perilaku mulai diselidiki pada awal tahun limapuluhan, para ahli kepemimpinan mulai mempelajari tingkah laku pemimpin, tentang apa yang dilakukan oleh pemimpin sehingga dapat lebih dekat hubungannya dengan proses kepemimpinannya. Para tokoh-tokoh yang memiliki pendapat ini antara lain adalah Fleishmen, Holphin dan Winner serta Heimphill dan coons. Berdasarkan penelitian di Univ. Ohio dan Michigan AS, perilaku perbuatan seorang pemimpin pada dasarnya cenderung ke arah dua hal yaitu konsiderasi dan struktur inisiasi. [10]

3.    Studi kepemimpinan pendekatan kontingensi, yaitu suatu studi kepemimpinan yang hakikatnya untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan What makes the leaders effective (Apa yang membuat seorang pemimpin bisa menjadi efektif).
Teori ini dikembangkan oleh Fiedler, dimana menurunya ada dua hal yang dijadikan sasaran kepemimpinan yaitu mengadakan identifikasi faktor-faktor yang sangat penting di dalam situasi dan memperkirakan gaya atau perilaku kepemimpinan yang paling efektif di dalam situasi tersebut. Menurut Fiedler di dalam situasi kerja ada tiga macam elemen penting yang akan menentukan gaya atau perilaku kepemimpinan yang efektif yaitu : hubungan antar pemimpin dan bawahan, struktur tugas dan kewibawaan kedudukan pemimpin.

Erat kaitannya dengan ketiga macam studi kepemimpinan tersebut ialah masalah kewibawaan pemimpin. Kewibawaan pada hakikatnya merupakan sumber lahirnya kekuatan pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan. Sehingga Menurut pendapat Gary A. Yukl, dalam Wahjusumidjo bahwa studi kepemimpinan dibagi empat bidang yaitu: trait, behavior, situasional dan power influence approach.[11]
Walaupun pendekatan kepemimpinan berbeda namun proses memengaruhi dapat menghasilkan tingkatan-tingkatan dalam kepemimpinan. Kasali (2007), dengan mengutip Maxwell mengemukakan 5 tahap kepemimpinan yang meliputi : (1) level 1, pemimpin karena hal-hal bersifat legalitas semisal  menjadi pemimpin karena surat keputusan (SK) ; (2) level 2, pemimpin yang memimpin dengan kecintaannya, pemimpin pada level ini pemimpin sudah memimpin orang bukan pemimpin pekerjaan ; (3) level 3, pemimpin yang lebih berorientasi pada hasil, pada pemimpin level ini prestasi kerja adalah  sangat penting ; (4) level 4, pada tingkat ini pemimpin berusaha menumbuhkan pribadi-pribadi dalam organisasi untuk menjadi pemimpin ; dan (5) level 5, pemimpin yang memiliki daya tarik yang luar biasa. Pada pemimpin level ini orang-orang ingin mengikutinya bukan hanya karena apa yang telah diberikan pemimpin secara personal atau manfaatnya, tetepi juga karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.[12]
C.   Konsep Pemimpin dan kepemimpinan
Berdasarkan studi yang telah diadakan, Yuki (1989) dalam Azhar Arsyad memberikan gambaran dua peranan pokok suatu kepemimpinan[13] yaitu:
a.    Peranan tugas dengan pusat perhatian yang diarahkan pada identifikasi masalah dan pemecahnnya termasuk alokasi sumber daya dan monitoring tingkah laku anggota organisasi agar dapat menjalankan tugas yang dilimpahkan.
b.    Peranan sosial dengan fokus pada manusianya, termasuk hubungan antara pribadi, yang kondusif terhadap usaha untuk membangun perpaduan kelompok dan pengembangan kualitas kerja para anggotanya.
Lebih lanjut Conger dan Kanungo (1987) dalam Azhar Arsyad mengemukakan bahwa peranan seorang pemimpin untuk dapat membawa perubahan dalam suatu kelompok dan organisasi beserta anggotanya sangat komprehensif yang meliputi:
1.    Peranan pembuatan keputusan
Dalam pembuatan keputusan Vroom dan Jago (1988) menyatakn perilaku seorang pemimpin atau manajer yang berkaitan dengan gaya pembuatan keputusan ada lima macam
a.    Dalam pendekatan otokritas yang tinggi, seorang pemimpin membuat keputusan sendiri berdasarkan informasi serta data yang ia peroleh dari sumber-sumber selain bawahannya.
b.    Dalam pendekatan yang sedikit berkurang tingkat otokritasnya seorang pemimpin memperoleh informasi dari bawahan untuk pembuatan keputusan tetapi bukan untuk pemecahan masalah.
c.    Pengambilan keputusan dari gaya otokratik ke gaya konsultatif, dimana pengambilan keputusan meminta informasi terhadap bawahan secara individu, tetapi informasi tersebut dapat mempengaruhi boleh juga tidak berpengaruh.
d.    Pengambilan keputusan secara lebih konsultatif, dimana pimpinan meminta informasi dari bawahansecara berkelompok, kemudian pimpinan mengambil keputusan sendiri tanpa harus terpengaruh oleh input yang diberikan oleh kelompok.
e.    Pengambilan keputusan secara partisipatif, dimana pimpinan mengambil keputusan secara bersama-sama dengan anggotanya dan pimpinan hanya berperan sebagai fasilitator.
Pengambilan keputusan secara otokratif dapat diterapkan jika telah diketahui bahwa solusi terhadap permasalahan yang satu lebih baik daripada yang lain, komitmen para bawahan rendah serta informasi pimpinan cukup tinggi. Sebaliknya pengambilan keputusan secara partisipatif sapat dilakukan jika komitmen para bawahan cukup tinggi, pimpinan tidak memiliki informasi memadai, permasalahan tidak terstruktur dengan baik, kesesuain target dengan tujuan tinggi, konflik dikalangan bawahan mungkin terjadi serta para bawahan memiliki informasi yang memadai.
2.    Peranan tugas
Adapun peran tugas seorang pemimpin adalah:
a.    Penginisiatif
b.    Pencari dan pemburu informasi
c.    Pemberi informasi
d.    Pemberi klarifikasi dalam suatu masalah
e.    Pengambil kesimpulan
f.     Pencari tahu apakah kesimpulan sudah dapat diambil atau belum.
3.    Peranan sosial
Dalam peran sosial seoran pemimpin memiliki peran sebagai:
a.    Pengengah supaya terjadi keharmonisan
b.    Pengalah untuk menang
c.    Pendorong serta motivator
d.    Pengompromi
e.    Pemonitor kata putus untuk dijadikan suatu norma atau aturan.
4.    Peranan karismatik[14]
Menurut Kanungo dan Mendoca dalam Azhar Arsyad pemimpin kharismatik adalah pemimpin yang pada dasarnya selalu tertarik untuk mengadakan atau menghasilkan perubahan-perubahan  di dalam suatu sistem dan transformasi nilai-nilai pada diri dan pengikutnya. [15] Dalam pengertian tersebut kepemimpinan kharismatik dapat dimiliki oleh setiap orang jika memenuhi beberapa persyaratan antara lain: kehendak seorang pemimpin untuk menciptakan perubahan-perubahan, iklim dinamis dan perkembangan pribadi dari dalam diri para bawahan dan para pengikutnya sehingga dapat mengubah keadaan mereka, serta memberikan semangat dinamis dengan bersikap sebagai orang tua pengasuh.[16]
Berdasarkan peranan kepemimpinan di atas, maka yang diharapkan adalah kepemimpinan kharismatik yang mampu menanamkan nilai etika kerja, yang tidak mengedapankan “reward and punishment”, “transactional” atau dalam istilah lain “carrot and stick” yang diterjemahkan secara bebas sebagai perilaku bekerja asal jadi. Dengan sikap kepemimpinan seperti ini akan melahirkan sikap kepemimpinan “altruistic”[17] yaitu sikap untuk siap berkorban dan menanggung resiko demi untuk kepentingan orang lain. Kepemimpinan “altruistic” Sebagaimana dalam QS Al Hasyr (59) : 9
tûïÏ%©!$#ur râä§qt7s? u‘#¤$!$# z`»yJƒM}$#ur `ÏB ö/ʼnÏ=ö7s% tbq™7Ïtä† ô`tB ty_$yd öNÍköŽs9Î) Ÿwur tbr߉Ågs† ’Îû öNÏd͑r߉߹ Zpy_%tn !$£JÏiB (#qè?ré& šcrãÏO÷sãƒur #’n?tã öNÍkŦàÿRr& öqs9ur tb%x. öNÍkÍ5 ×p|¹$|Áyz 4 `tBur s-qム£xä© ¾ÏmÅ¡øÿtR šÍ´¯»s9'ré'sù ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÒÈ 

Terjemahnya:dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (9).[18]

D.   Tipe dan Ciri kepemimpinan
Berdasarkan penelitian Robert R. Blake dan Jane S. Mouton membagi 5 tipe kepemimpinan, [19] yaitu:
1.    Impoverished Leadership, yaitu tipe kepemimpinan yang menunjukkan tidak adanya keterlibatan kepemimpinan baik kepada bawahan maupun hasil. Ciri-cirinya adalah:
a.    Pemimpin menghindarkan segala bentuk tanggung jawab
b.    Perhatian pemimpin terhadap hubungan kerja atau bawahan maupun terhadap pekerjaan sangat kurang.

2.    Middle of The Road, yaitu tipe kepemimpinan untuk terpeliharanya tingkat kepuasan bawahan maupun untuk kepentingan hasil. Cirinya adalah;
a.    Pemimpin cukup memperhatikan moral dan mempertahankan moral bawahan pada tingkat yang memuaskan
b.    Hubungan antara pemimpin dan bawahan dalam suasana kebapakan.
c.    Kelemahannya adalah tidak memiliki dasar yang baik untuk berinovasi dan berkreasi, dalam jangka panjang kepemimpinan ini akan ketinggalan zaman.

3.    Country club Leadership, yaitu tipe yang secara keseluruhan menekankan pada kebutuhan bawahan dan terciptanya suasan kerja yang bebas dari tekanan, cirinya adalah pemimpin lebih menekankan pada kepentingan bawahan atau hubungan kerja. Akibatnya hasil kurang diperhatikan sebab mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan.

4.    Task Leadership, yaitu tipe yang menekankan pada kepentingan hasil dan sedikit untuk keperluan bawahan. Pemimpin sangat mementingkan tugas atau hasil. Akibatnya bawahan dianggap tidak penting dan sewaktu-waktu dapat diganti. Pemimpin tipe ini adalah otoriter, keterampilan, peningkatan  bawahan dianggap tidak perlu.

5.    Team Leadership, yaitu tipe pemimpin yang sangat menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja. Sikap pemimpin tersebut akan mendorong timbulnya kebutuhan bawahan untuk berpikir dan berproduksi. Tercipta adanya hubungan yang matang satu sama lain, dan yang sangat dirasakan manfaatnya terhadap organisasi. Tipe kepemimpinan seperti ini sangat memberikan keuntungan besar bai organisasi sebab sangat dirasakan:
a.    Adanya peningkatan hasil
b.    Bertambah baiknya hubungan antara kelompok
c.    Kemanfaatan kegiatan kelompok lebih efektif
d.    Pertentangan yang tidak sehat antarbawahan sangat kurang
e.    Meningkatkan saling pengertian antar individu
f.     Meningkatnya usaha kreatifitas individu.

Untuk sampai pada tingkat tipe ideal dari seorang pemimpin, maka diperlukan pemimpin yang memiliki ciri-ciri yang ideal pula. Kajian mengenai ciri pemimpin diperoleh melalui penelitian yang membandingkan ciri-ciri fisik dan kejiwaan pemimpin dan non-pemimpin. Dari hasil analisis sejumlah studi oleh Stogdill (1981) dalam Cyril Poster menghasilkan sejumlah ciri yang lebih konsisten menandai pemimpin yang efektif,[20]  yaitu:
1.    Rasa tanggungjawab
2.    Mementingkan penyelesaian tugas
3.    Energi
4.    Ketegaran
5.    Pengambilan resiko
6.    Keaslian
7.    Percaya diri
8.    Kemampuan mengendalikan stres
9.    Kemampuan mempengaruhi, dan
10. Kemampuan mengkordinasi upaya orang lain dalam pencapaian tujuan.

Esensi yang hampir sama dengan menggunakan tinjauan yang berbeda dikemukakan oleh Ary Ginanjar Agustian (2007), dalam Muhaimin dkk, yang menyatakan bahwa kepemimpinan yang unggul dibagi dalam lima tingkatan kepemimpinan yang saling berurutan,[21] yaitu:
1.    Pemimpin yang dicintai
2.    Pemimpin yang dipercaya
3.    Pemimpin yang membimbing
4.    Pemimpin yang berkepribadian
5.    Pemimpin yang abadi    

Untuk bisa memimpin dengan baik, seorang pemimpin harus mencintai orang-orang yang dipimpinnya. Di dalam sebuah hadits Nabi Saw menyatakan “Man la yarham la yurham (al-Hadis)”, artinya siapa saja yang tidak mencintai (tidak mengasihi) orang lain, maka ia tidak akan dicintai (dikasihsayangi) oleh orang lain.
Seorang pemimpin untuk dapat memulai memimpin dengan baik adalah dengan memiliki sifat kasih sayang atau mencintai terhadap yang dipimpinnya. Dengan dimilikinya sifat ini, maka pemimpin akan menjadikan SDM sebagai aset utama yang paling penting dan tidak tertandingi oleh aset apapun.
Setalah mampu memimpin yang memfokuskan pada manusia dengan mengedepankan sifat kasih sayang dan mencintai. Pemimpin harus memiliki integritas yang tinggi untuk mencapai visi dan cita-citanya. Dengan integritas yang tinggi tersebut akan timbul keberanian dalam diri pemimpin untuk menghadapi berbagai rintangan dan resiko yang menghadangnya. Dengan integritas, keberanian, dan komitmen itulah pemimpin akan memperoleh kepercayaan.
Dengan kepercayaan yang diperolehnya tersebut, tidak berarti kemudian pemimpin mengeksploitasi para pengikutnya dengan sekehendak hatinya, tetapi justeru sebaliknya, pemimpin harus mampu membimbing pengikutnya untuk dapat menjadi pemimpin yang baik. Pada tahap inilah pemimpin akan memperoleh loyalitas yang tinggi dari para pengikutnya. Loyalitas tersebut didapatkan karena adanya pengakuan yang tinggi sebagai akibat dari proses pembimbingan dari pemimpinnya.
Selanjutnya untuk menjadi pemimpin besar, ia harus mampu mengetahui dirinya sendiri dan mengendalikan dirinya sendiri. Dalam kaitan ini sering kali disebut bahwa pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri. Pemimpin yang mampu mengetahui dirinya sendiri dan mengendalikan dirinya sendiri serta mampu menjaga integritasnya disebut pemimpin yang berkepribadian.
Sedangkan level terakhir kepemimpinan adalah pemimpin yang abadi. Pemimpin yang abadi seringkali tidak lagi disebut sebagi pemimpin tetapi biasa disebut dengan sebutan-sebutan agung, seperti Nabi, Kiai, Panglima dan lain-lain. Pada level ini pemimpin bekerja dengan lebih mengedepankan suara hatinya atau fitrah yang dimilikinya. Pemimpin-pemimpin yang memimpin dengan mendengarkan suara hati tersebut memiliki karakter yang kuat. Hasil dari kepemimpinan oleh pemimpin dengan karakter yang kuat dan mengedapankan suara hatinya akan mampu membentuk sebuah peradaban baru yang akan bertahan sangat lama. Contoh pemimpin seperti ini adalah Nabiullah Muhammad Saw.
Adapun.
ciri kepemimpinan Rasulullah SAW dijabarkan dalam empat karakter, di mana empat karakter kepemimpinan beliau disegani kawan dan dihormati lawan sekalipun[22], yaitu:
1.    Shiddiq (Jujur). Ini adalah sifat kejujuran yang sangat ditekankan Rasul baik kepada dirinya maupun pada para sahabat-sahabatnya (Semoga kita juga meneladaninya).Adalah ciri seorang muslim untuk jujur. Sehingga Islam bukan saja menjadi sebuah agama namun juga peradaban besar.
2.    Amanah (bisa dipercaya). Sifat ini ditanamkan khususnya kepada para sahabat yang ditugaskan di semua hal apa saja untuk bisa berbuat amanah, tidak curang (atau juga korupsi di zaman sekarang) dalam hal apa saja. Sesuatu yang sekarnag menjadi sangat langka di negeri muslim sekalipun (miris).
3.    Tabligh (Menyampaikan yang benar). Ini adalah sebuah sifat Rasul untuk tidak menyembunyikan informasi yang benar apalagi untuk kepentingan umat dan agama. Tidak pernah sekalipun beliau menyimpan informasi berharga hanya untuk dirinya sendiri..
4.    Fathonah (Cerdas). Sifat Pemimpin adalah cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambbil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada umat.

Dengan mengenal beberapa sifat tadi, kita mungkin bisa sedikit mengerti kenapa Seorang Rasulullah yang ummi (tidak bisa membaca) mampu menjadi seorang Nabi, Rasul, Kepala Keluarga, Ayah, Suami, Imam Shalat, Pimpinan Umat, Pimpinan Perang menjadi sangat sukses dalam setiap hal yang beliau geluti. Semoga menjadi landasan bagi kita dan para pemimpin muslim untuk mampu meneladani apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka sebagai kesimpulan :
1.    kepemimpinan adalah proses dalam mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan di dalam suatu situasi tertentu. Sehingga pemimpin harus mampu memberikan pengaruh kepada orang lain.
2.    Pemimpin menyangkut subyek/pelaku sedangkan kepemimpinan cenderung pada sifat.
3.    Pendekatan kepemimpinan meliputi, teori pendekatan sifat, perilaku, transformasi dan kontingensi
4.    Peranan pemimpin meliputi peranan membuat keputusan, peran tugas, peran sosial dan peran kharismatik.
5.    Tipe dan ciri Pemimpin terdapat 5 tipe kepemimpinan yaitu: Impoverished Leadership, Middle of The Road, Country club Leadership, Task Leadership, dan Team Leadership. Adapun ciri-cirinya meliputi ciri pisik dan psikologis.

B. Saran-saran

            Pembahasan tentang kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat luas dan kompleks, akan tetapi sangat urgen upaya pencapaian suatu tujuan dalam sebuah lembaga, sehingga diperlukan usaha untuk lebih banyak usaha untuk mengelaborasi materi tersebut untuk menjadikan calon-calon pemimpin yang berhasil.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. Azhar. Pokok-pokok Manajemen: Pengetahuan Praktis bagi Pimpinan dan Eksekutif, Cet. 2, Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2003

------------------, dkk., Pengantar Manajemen Bagian Pertama, Makassar: Alauddin Press, tt 

Hasbi al-Shiddiqi. dkk., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/ Pentafsir Al-Qur’an, 1971


Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta: INIS, 1994

Muhaimin, Et. Al. “Manajemen Pendidikan:Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah”, Cet. 2, Jakarta: Kencana, 2010.

Poster. Cyril, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, Cet. I, Jakarta: Lembaga Indonesia Adidaya, 2000

Wahjosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi, Cet. 3, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1987



[1]Azhar Arsyad, Pokok-pokok Manajemen: Pengetahuan Praktis bagi Pimpinan dan Eksekutif, (Cet. 2, Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2003), h. 130.
[2] Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, (Cet. I, Jakarta: Lembaga Indonesia Adidaya, 2000), h.156-157
[3] Ibid. h. 157
[4]Azhar Arsyad, dkk, Pengantar Manajemen Bagian Pertama, (Makassar: Alauddin Press, tt), h. 133 
[5] Ibid. h. 133-134
[6] Muhaimin, Et. Al. “Manajemen Pendidikan:Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah”, (Cet. 2, Jakarta: Kencana, 2010), h. 29-30
[7]Ibid.  
[8]Ibid.
[9] Wahjosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi, (cet. 3, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1987),  h. 96, baca pula Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A. Pengantar Manjemen, h. 142-151
[10]Konsiderasi adalah  perilaku pemimpin cenderung ke arah kepentingan bawahan dan struktur Inisiasi perilaku pemimpin cenderung lebih mementingkan tujau organisasi daripada bawahan Lebih lengkapnya baca Wahjosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi, (cet. 3, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1987),  h. 62
[11]Ibid, h. 13
[12]Muhaimin et.al. Op.cit.h. 30
[13] Azhar Arsyad, op.cit. h. 131
[14] Gaya kepemimpinan kharismatik yang menempatkan seseorang pemimpin sangat dihormati dan disegani, bukan hanya sebagai pemimpin formal, informal tetapi juga memiliki otoritas spritual. Gaya kepemimpinan kharismatik banyak dijumpai pada lembaga-lembaga pesantren dimana kiai mempunyai otoritas kharismatik. Baca Mastuhu, Dinamika Pendidikan Pesantren. Jakarta:INIS, 1994, h. 79-86
[15]Azhar Arsyad, op. Cit. h. 137-139
[16] Ibid.
[17] Ibid. h. 139-143
[18]Hasbi al-Shiddiqi. dkk., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1971), h. 917
[19]Wahjusumidjo, op.cit., h. 66-68
[20] Cyril Poster, op.cit., h. 159
[21] Muhaimin, dkk., op.cit, h. 33-35

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda